Tugas Resume
Nama : Arini
NIM :
16/395786/PN/14637
Prodi : Teknologi Hasil Perikanan
Gol. : A52
Partisipasi Petani dalam Replanting
Kelapa Sawit di Provinsi Jambi
Revitalisasi didalam sektor
perkebunan merupakan upaya pengembangan perkebunan rakyat yang dilakukan
melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan dengan tujuan
meningkatkan produktivitas sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendukung
perkembangan wilayah. Revitalisasi perkebunan juga didukung oleh berbagai peraturan
pemerintah diantaranya adalah Peraturan
Menteri Pertanian (PMP) Nomor 33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang Pengembangan
Perkebunan melalui Program Revitalisasi Perkebunan. Luas perkebunan kelapa
sawit rakyat di Jambi di tahun 2010 mencapai 3.314 663 Ha, meningkat
dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, seiring dengan perkembangan kelapa sawit,
banyak tanaman kelapa sawit yang telah berumur lebih dari 25 tahun mengalami
penurunan produktivitas. Agar berproduksi secara normal perlu adanya
peremajaan.
Replanting bisa menjadi solusi atas
masalah tersebut. Replanting adalah kegiatan penanaman kembali pada perkebunan
kelapa sawit yang memiliki tanaman kelapa sawit dengan umur yang sudah tua dan
tidak produktif. Replanting dilakukan agar tidak terjadi penurunan
produktivitas yang tinggi. Replanting seharusnya sudah terlaksana di wilayah
perkebunan Jambi namun hanya sebagian kecil petani yang sudah melakukannya. Hal
ini dapat disebabkan oleh adanya perbedaan persepsi petani, sehingga dapat
memengaruhi partisipasinya. Permasalahan lainnya yang dihadapi petani saat ini
adalah replanting merupakan suatu inovasi yang baru bagi petani, ketakutan
petani kehilangan mata pencahariannya apabila tanaman kelapa sawitnya di-replanting
dan keterbatasan modal yang dimiliki.
Awal tahun 2011 sebelum dilakukannya demplot
percontohan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jambi berkerja sama dengan BUMN,
beberapa orang petani telah melakukan replanting pada kebun sawitnya secara
mandiri dan menggunakan teknik tebang pilih atau tebang sisip dengan inisiatif
dan modal sendiri. Hingga saat ini semakin banyak petani yang mulai melakukan
peremajaan dengan sistem tersebut, namun masih ada petani yang belum melakukan replanting
hingga saat ini. Sistem yang digunakan dalam demplot percontohan adalah sistem replanting
konvensional tumpang sari yang diperkenalkan pada tahun 2011 yaitu salah satu
sistem replanting dengan menumbang habis tanaman yang tua, menggantinya dengan
tanaman baru serta menanam tanaman pangan dan palawija di antara tanaman baru
untuk menambah pendapatan petani.
Persepsi dan juga partisipasi
merupakan suatu konsep yang saling berkaitan satu sama lain, dan pada umumnya
sebelum orang berpartisipasi dalam suatu kegiatan maka akan didahului oleh
persepsi dan sikapnnya terhadap suatu objek tersebut dan kemudian barulah
muncul partisipasi. Terdapat faktor internal dan eksternal yang diamati untuk
melihat partisipasi petani dalam replanting kelapa sawit di Provinsi Jambi.
Faktor internal meliputi (umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga,
luas lahan dan juga motivasi berusaha tani) sedangkan faktor-faktor eksternal
meliputi (tingkat ketersediaan dari sarana produksi, frekuensi mengikuti
kegiatan penyuluhan, tingkat akses informasi dan juga dampak perkebunan besar
yang dirasakan petani).
Sebagian besar petani berada pada
usia yang tergolong produktif dan hanya terdapat sebagian kecil dari petani
yang sudah tua. Kesehatan dan kemampuan
bekerja petani dengan usia produktif mempunyai kemampuan bekerja dan
beraktifitas yang lebih tinggi. Proses adopsi inovasi petani yang berada pada
usia produktif lebih cepat tanggap dibandingkan dengan yang berumur tua karena
telah terjadi penurunan kondisi fisik, lambat dalam proses pengambilan
keputusan serta penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Sebagian besar petani (65,06%)
yang melakukan replanting berusia di atas 45 sampai 59 tahun. Tingkat pendidikan
menentukan kemampuan seseorang dalam mencerna informasi dan berhubungan dengan
kualitas kerja dalam melakukan usahatani. Umumnya petani memiliki tingkat
pendidikan yang rendah. Sebagian besar petani mengikuti program keluarga
berencana, hanya sebagian kecil petani yang memiliki jumlah anggota keluarga
lebih dari 4. Hal ini menandakan sebagian besar petani tidak terbebani dengan
jumlah tanggungan keluarga. Sebagian besar petani memiliki motivasi yang kuat
untuk melakukan replanting karena petani menyadari pentingnya melakukan replanting
agar tidak kehilangan mata pencahariannya. Motivasi lain petani adalah adanya
bantuan dana (hibah) dempot percontohan dari pemerintah dan melihat secara
langsung proses pelaksanaan dan hasil yang diperoloeh membuat petani mau
melakukan replanting. Kekhawatiran petani akan kehilangan mata pencahariannya
menjadi faktor utama terhambatnya replanting. Faktor internal yang penting
diperhatikan untuk mengembangkan pengetahuan petani sehingga memiliki persepsi
inovasi yang positif terhadap replanting kelapa sawit adalah pendidikan formal.
Sarana produksi yang dibutuhkan dalam proses replanting
antara lain bibit kelapa sawit yang bersertifikat, pupuk, serta obat-obatan
seperti obat pengendalian hama & penyakit dan lain sebagainya. Petani
menyatakan sarana produksi sulit didapatkan terutama bibit yang bersertifikat.
Kalau pun ada harganya relatif mahal. Kegiatan penyuluhan banyak membantu dalam
pelaksanaan proses replanting. Diawal kegiatan penyuluhan disampaikan oleh
pihak UPTD (Unit Pelaksanaan Teknis Desa) dan juga Dinas Perkebunan Provinsi
Jambi, namun saat ini sudah sangat jarang dilakukan penyuluhan tentang replanting.
Petani yang membutuhkan informasi tentang replanting bisa memperolehnya dari
petani yang peserta demplot percontohan dan teman sesama petani yang dianggap
berhasil. Pertukaran informasi antar petani jauh lebih cepat didifusikan.
Petani menyatakan perkebunan yang besar tidak menjadikan petani berminat
melakukan replanting. Perkebunan besar PTPN VI yang dulunya menjadi mitra
perkebunan rakyat dalam program revitalisasi harusnya saling menguntungkan
namun pada kenyatannya perusahaan tidak membantu perkebunan rakyat. Faktor
ekternal yang penting diperhatikan agar petani dapat mengembangkan pengetahuan
petani sehingga memiliki persepsi inovasi yang positif terhadap replanting
kelapa sawit adalah: tingkat ketersediaan dari sarana produksi khususnya
menggunaan bibit unggul yang bersertifikat, frekuensi mengikuti kegiatan
penyuluhan
Tingkat keuntungan inovasi replanting yang relatif
mempengaruhi petani dalam mengadopsi inovasi tersebut. Saat ini petani lebih
memilih sistem sisip yaitu penanaman kembali kelapa sawit dengan cara tidak
menebang tanaman tua dan menanam tanaman
muda di samping tanaman tua, sehingga tanaman tua masih bisa diambil
hasilnya. Sistem ini tidak berdampak baik bagi pertumbuhan kelapa sawit yang
baru ditanam. Beberapa responden menyatakan replanting belum sesuai dengan
keadaan petani saat ini. Petani tidak memiliki tabungan dan mata pencaharian
lain. Replanting membutuhkan biaya yang cukup mahal dan tidak bisa dilakukan
dalam skala kecil. Replanting tidak efektif apabila luas perkebunan kurang dari
2 ha.
Partisipasi petani dalam kegiatan replanting
menunjukkan tingkat keikutsertaan dan keaktifannya dalam megikuti berbagai
kegiatan yang dilakukan petani dalam melaksanakan replanting. Rendahnya
partisipasi petani dalam penerapan teknologi budidaya kelapa sawit yang baik
tentu saja karena berbagai kendala yang dihadapi oleh petani seperti rendahnya
pengetahuan para petani akan pentingnya menerapkan teknologi budidaya yang baik
serta rendahnya minat petani dalam mengadopsi teknologi tersebut. Faktor-faktor
yang menghambat partisipasi petani dalam konstruksi budaya masyarakat pedesaan
saat ini mencakup tiga aspek yaitu (1) fasilitas budaya dasar dan kesempatan
dimana petani kurang berpartisipasi dalam pembentukan budaya masyarakat
pedesaan, (2) petani tidak memiliki pengetahuan yang cukup dalam konstruksi budaya
masyarakat pedesaan, (3) kualitas budaya relatif rendah sehingga kemampuan
petani untuk berpartisipasi menjadi rendah.
Sumber
:
Anggreany
S., P. Muljono., dan D. Sadono. 2016. Partisipasi Petani dalam Replanting
Kelapa Sawit di Provinsi Jambi . Jurnal Penyuluhan Institut Pertanian Bogor.12
(1).
Ahmanda Sabilla (16/395785/PN/14636)
ReplyDeletefaktor-faktor nilai berita:
1. Sumber teknologi/ ide: Revitalisasi didalam sektor perkebunan
Replanting kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitas
2. Sasaran : petani kelapa sawit
3. Manfaat : mencegah penurunan produktivitas yang tinggi
Mengembangkan pengetahuan petani sehingga memiliki
persepsi inovasi yang positif
4. Nilai Pendidikan : Replanting dapat dikembangkan oleh para peneliti agar lebih efektif dalam meningkatkan produktivitas petani kelapa sawit.
Nilai berita
1. Timelines : tulisan ini bersifat baru karena pengembangan perkebunan kelapa sawit masih menjadi perhatian pemerintah untuk saat ini
2. Proximity : tulisan ini bersifat dekat dengan petani karena petani kelapa sawit merupakan sasaran dari diberlakukannya replanting kelapa sawit
3. Importance : tulisan ini mengandung informasi yang penting bagi petani khususnya petani kelapa sawit karena replanting diharapkan dapat menanggulangi masalah yang ada yakni umur kelapa sawit yang sudah tua dan tidak produktif lagi sehingga produktivitas petani rendah.
4. Policy : tulisan ini selaras dengan kebijakan pemerintah yakni Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang pengembangan perkebunan melalui program revitalisasi perkebunan.
5. Consequence : tulisan ini mengandung kebijakan pemerintah yakni Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang pengembangan perkebunan melalui program revitalisasi perkebunan yang berakibat menguntungkan untuk petani sebagai solusi dari penurunan produktivitas petani akibat umur kelapasawit yang tua dan tidak produktif
6.Human interest : tulisan ini mengundang banyak pendapat dari para pembaca mengenai efektivitas replanting